Pacarku Sholeh
Pacarku Sholeh
.
Salah satu pembelaan aktivis pacaran ketika ditanya alasan mengapa tetap bertahan dengan pacarnya adalah dalih dengan mengatakan bahwa pacarnya adalah orang yang sholeh, selalu menjaga ketika berdua dan tidak pernah macam-macam. Memegang tangan pun tidak berani, apalagi terjerumus ke perzinahan, rasa-rasanya tidak akan mungkin, katanya. Malahan, dia sering mengingatkan sholat tahajjud, mengingatkan untuk mendoakan orang tua dan juga menyemangati diri tatkala sedang menghadapi permasalahan.
.
Ucapan Pacar yang Sholeh adalah sebuah ucapan yang memiliki kontradiksi di dalamnya. Pacaran sendiri merupakan sebuah aktivitas mendekati zina, dan aktivitas tersebut adalah aktivitas yang mengundang dosa. Kemudian, kesholehan adalah sebuah cerminan dari sikap seorang muslim yang sesungguhnya ingin menjauhi dosa. Pacar yang sholeh berarti bisa diartikan dengan orang yang ingin menjauhi dosa, tetapi sikapnya malah mengundang dosa.
.
Bukankah hal ini sangat kontradiktif?
.
Kemudian, apabila sosok orang semacam itu memanglah ada, yakni ia seorang sholeh tapi dia pacaran, maka kaidah ushul dalam Islam menyatakan bahwa "apabila kebaikan dan keburukan berkumpul pada satu tempat, maka akan dimenangkan keburukan". Artinya aktivitas pacarannya akan membuatnya malah jauh dari kesholehan. Misalnya, rajin sholat di masjid karena pacarnya, rajin tadarusan karena pacarnya dan rajin beramal sholeh lainnya tidak lain tidak bukan karena ingin mendapatkan perhatian dari pacarnya. Ini berarti dia telah menjadikan pacarnya niat utama dalam melakukan ibadah, na'udzubillah.
.
Jadi, pada prinsipnya, mereka yang mengaku sholeh mestilah tidak akan berpacaran, sebab dia tahu bahwa pacaran adalah dosa. Bagi aktivis pacaran, jangan melakukan pembelaan bahwa pacar kamu adalah orang sholeh sebab itu berarti mencampur-adukkan sesuatu yang buruk dengan yang baik, sebab hal tersebut dilarang dalam agama. Allah SWT berfirman, "janganlah mencampur adukkan kebenaran dan kebathilan" (QS al-Baqarah: 2).
.
Ditulis oleh @adjihmubarok Tim @IndonesiaTanpaPacaran
#IndonesiaTanpaPacaran
Universitas Djuanda
.
Salah satu pembelaan aktivis pacaran ketika ditanya alasan mengapa tetap bertahan dengan pacarnya adalah dalih dengan mengatakan bahwa pacarnya adalah orang yang sholeh, selalu menjaga ketika berdua dan tidak pernah macam-macam. Memegang tangan pun tidak berani, apalagi terjerumus ke perzinahan, rasa-rasanya tidak akan mungkin, katanya. Malahan, dia sering mengingatkan sholat tahajjud, mengingatkan untuk mendoakan orang tua dan juga menyemangati diri tatkala sedang menghadapi permasalahan.
.
Ucapan Pacar yang Sholeh adalah sebuah ucapan yang memiliki kontradiksi di dalamnya. Pacaran sendiri merupakan sebuah aktivitas mendekati zina, dan aktivitas tersebut adalah aktivitas yang mengundang dosa. Kemudian, kesholehan adalah sebuah cerminan dari sikap seorang muslim yang sesungguhnya ingin menjauhi dosa. Pacar yang sholeh berarti bisa diartikan dengan orang yang ingin menjauhi dosa, tetapi sikapnya malah mengundang dosa.
.
Bukankah hal ini sangat kontradiktif?
.
Kemudian, apabila sosok orang semacam itu memanglah ada, yakni ia seorang sholeh tapi dia pacaran, maka kaidah ushul dalam Islam menyatakan bahwa "apabila kebaikan dan keburukan berkumpul pada satu tempat, maka akan dimenangkan keburukan". Artinya aktivitas pacarannya akan membuatnya malah jauh dari kesholehan. Misalnya, rajin sholat di masjid karena pacarnya, rajin tadarusan karena pacarnya dan rajin beramal sholeh lainnya tidak lain tidak bukan karena ingin mendapatkan perhatian dari pacarnya. Ini berarti dia telah menjadikan pacarnya niat utama dalam melakukan ibadah, na'udzubillah.
.
Jadi, pada prinsipnya, mereka yang mengaku sholeh mestilah tidak akan berpacaran, sebab dia tahu bahwa pacaran adalah dosa. Bagi aktivis pacaran, jangan melakukan pembelaan bahwa pacar kamu adalah orang sholeh sebab itu berarti mencampur-adukkan sesuatu yang buruk dengan yang baik, sebab hal tersebut dilarang dalam agama. Allah SWT berfirman, "janganlah mencampur adukkan kebenaran dan kebathilan" (QS al-Baqarah: 2).
.
Ditulis oleh @adjihmubarok Tim @IndonesiaTanpaPacaran
#IndonesiaTanpaPacaran
Universitas Djuanda
Komentar
Posting Komentar